• facebook
  • twitter
  • linkin
  • flickr
  • myspace
Pihak duniaagroindustri menerima tulisan dari kawan2 untuk ditampilkan dan dibagi ilmunya di duniaagroindustri. Nama penulis dan keterangaannya akan ditampilkan. Bagi yang berminat silahkan kirim tulisannya ke alamat email taufikwidiarto@gmail.com

Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan

RI Baru Bisa Menganut Satu Jenis Gula 10 Tahun Lagi

Posted by on | | 0 komentar
Jakarta - Indonesia baru bisa memungkinkan menerapkan satu jenis gula di pasar dalam negeri hingga 10 tahun kedepan. Saat ini masih ada dikotomi gula kristal putih (GKP) atau gula konsumsi umum dengan gula untuk kebutuhan gula industri yaitu gula rafinasi.

"Indonesia masih menganut dualisme gula, sepuluh tahun mendatang baru bisa hilang," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur di kantor Kadin, Kamis (9/12/2010).

Natsir menjelaskan mengapa baru sepuluh tahun lagi Indonesia bisa menganut satu gula seperti kebanyakan negara-negara lain di dunia. Alasannya karena pada periode itu Indonesia sudah mengalami swasembada gula, revitalisasi sudah rampung dan pembangunan pabrik gula baru sudah beroprasi penuh.

Natsir menuturkan adanya wacana memasukan gula rafinasi ke pasar umum saat ini ditengah ancaman kekurangan gula konsumsi sangat tidak relevan. Selain harus menabrak aturan yang sudah ada, juga akan berakibat pada nasib petani tebu yang selama ini menyuplai bahan baku GKP ke pabrik-pabrik gula PTPN.

"Kalau dualisme ini dihilangkan sekarang kasihan petani," katanya.

Selama ini gula kristal putih untuk konsumsi umumnya memiliki kualitas dibawah dari gula rafinasi dari sisi warna atau kepekatan warna gula (icumsa) karena diolah di pabrik tua. Selain itu, gula rafinasi memiliki harga yang kompetitif karena diproses dipabrik yang moderen dan baru dengan bahan baku raw sugar yang relatif murah.

(hen/ang)
sumber: detikfinance.com
Maos Jangkepipun (read more) »»

Budidaya Lele yang Murah Meriah

Posted by on | | 1 komentar

Pekarangan rumah luas dan Anda suka budidaya ikan? Ada baiknya Anda melirik budidaya lele ini. Budidaya lele ini ternyata tak melulu 'jorok' karena sudah bisa dikembangkan sistem budidaya yang lebih murah, bersih dan menjanjikan dengan suplemen organik sehingga bisa maksimal hasilnya. Bisnis budidaya ikan lele ini pun tampaknya akan selalu menguntungkan. Hal ini karena semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan ikan sebagai sumber protein yang tinggi dengan harga yang terjangkau. Ikan menjadi alternatif mengingat harga daging yang makin hari makin mahal.
Ikan lele sendiri memiliki nilai gizi yang mumpuni disamping dagingnya yang gurih. Lele mengandung protein yang tinggi dan zat penguat tulang (kalsium) yang baik untuk makanan anak balita. Selain itu lele juga mengandung mineral lain yang penting pula untuk kesehatan tubuh.

Dengan fakta-fakta itu, maka pada akhirnya ikan lele dapat dijadikan peluang usaha yang menarik. Mengingat selama ini budidaya ikan lele selalu terkesan 'jorok', kini budidaya ikan air tawar tersebut sudah berkembang menjadi lebih murah, bersih, dan menjanjikan.

"Sekarang untuk budidaya ikan lele, kita sudah ada suplemen organik yang dapat membantu budidaya lele lebih maksimal. Karena suplemen organik ini memiliki fungsi sebagai penjaga kualitas air, menignkatkan percepatan pembesaran bibit lele jika dicampur dengan pakannya, dan mengurangi tingkat mortalitas dari bibit lele," jelas Deden A.S, sebagai salah seorang pembudidaya lele yang ditemui detikFinance, Minggu (21/11/2010).

Deden, yang memulai budidaya lele ini sejak tahun 2006, diawali hanya iseng-iseng di pekarangan rumahnya dengan membuat kolam dari terpal sebesar 3x3x1 meter yang diisi air setinggi 7O cm. Dengan pola budidaya intensif, kolam tersebut dapat menampung jumlah tanam bibit ikan lele sebanyak kurang lebih 1800-2000 yang masing-masing bibit tersebut berukuran 10-12 cm.

"Setelah membuat kolam dan menaruh bibit lele tadi, kemudian memberi pakan dan suplemen organik dengan waktu teratur, selama 45 hari saya bisa memanen lele tersebut dengan jumlah berat sebesar 200 Kg - 250 Kg untuk jumlah maksimalnya," ujar Deden.

Bagi anda yang tertarik mencoba membudidayakan ikan lele ini, Deden memberi asumsi perhitungan yang sederhana. Dimulai dengan membuat kolam dari terpal dengan ukuran 3x3x1 meter yang tentunya memerlukan biaya yang tidak begitu mahal ketimbang membuat kolam dari semen atau kolam gali.

"Masalah perhitungan harga pembuatan kolam dari terpal, tentu semua orang akan tahu berapa biaya yang dibutuhkan. Karena terpal sendiri permeternya murah," jelas Deden.

Kemudian, Deden memberikan asumsi biaya pembelian bibit lele dengan harga Rp 300 per ekor. Jika untuk kolam 3x3x1 meter dapat menampung bibit kurang lebih 2000 ekor, maka kita hanya perlu mengeluarkan kocek sebesar Rp 600.000 (Rp 300 x 2000 ekor).

Mengingat lama pembesaran membutuhkan waktu selama 45 hari, maka kebutuhan pakan yang dibutuhkan adalah sejumlah 90 Kg (2 Kg perhari). Nantinya, Biaya yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 660.000, dengan harga pakannya perkarung adalah Rp 220.000 seberat 30 Kg.

Adapun, pembelian kebutuhan suplemen organik adalah Rp 180.000 untuk 4 botol selama 45 hari pembesaran bibit. Empat botol tersebut akan difungsikan untuk pemaksimalan kualitas air dan bibit lele.

Pada akhirnya, total biaya yang dibutuhkan adalah kurang lebih Rp 1440000.

Berikut adalah ringkasan dari modal yang dibutuhkan perkolamnya adalah:


* Harga Bibit Lele : Rp 300 x 2000 ekor = Rp 600.000
* Harga Pakan : Rp 220.000 x 3 karung = Rp 660.000
* Harga Suplemen Organik: Rp 45000 x 4 botol = Rp 180.000
* Total Biaya Produksi: Rp 1.440.000


Melalui asumsi modal tersebut dari Deden, maka keuntungan yang bisa didapat dari satu buah kolam dengan target panen 2.000 bibit adalah 200 Kg - 250 Kg.

Deden menjelaskan, bahwa harga eceran yang bisa diraih adalah senilai Rp 15.000 perkilonya. Sedangkan untuk harga yang dijual ke pasar, dapat diraih sebesar Rp 12000 perkilonya.

Sehingga, lanjut deden, jika diambil dari asumsi harga terendahnya, maka keuntungan yang bisa diambil adalah Rp 960.000 untuk satu kolam. Jumlah tersebut diambil dari penjualan lele sebanyak 200 Kg x Rp 12.000 yang berjumlah Rp 2400.000 dikurangi biaya produksi yang berjumlah Rp 1.440.000.

"Jika panen yang kita hasilkan maksimal, kita dapat mencapai berat sejumlah 250 Kg. Keuntungan yang bisa diambil dari selisih total penjualan dan biaya produksi adalah sebesar Rp 1.560.000 perkolamnya," tegas Deden.

Dari penjualan lele tadi saja, jelas Deden, itu sudah merupakan peluang usaha yang menarik di samping aktivitas kesibukan sehari-hari. Karena biaya yang dibutuhkan tidak membutuhkan nilai investasi yang tinggi.

"Dari sisi waktu tidak begitu lama, malah simple dan sederhana. Yang penting disiplin saja dalam jadwal pemberian pakan dan suplemen organiknya.'' kata Deden.

Berbicara mengenai peluang yang lebih luas lagi. Hasil dari lele tersebut, dapat dijadikan berbagai macam peluang usaha lainnya yang lebih menarik tentunya.

Selain yang sudah kita ketahui, lele dapat dijadikan menu makanan pecel lele. Namun di sisi lain, hasil dari olahan daging ikan lele dapat dijadikan berbagai macam hasil. Misalnya, daging lele dapat dijadikan nugget lele, abon lele, lele asap, bakso lele, dan bahkan dapat dijadikan filet lele. Mengingat kebutuhan filet lele untuk ekspor sangat tinggi.

"Atau mungkin kita dapat mengembangkan dari hasil ikan lele tersebut menjadi olahan-olahan penganan menurut ide dan kreativitas kita yang memiliki nilai jual tinggi," ucap Deden.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai budidaya intensif ikan lele, anda dapat menghubungi Departemen Perikanan, atau para pelaku usaha ikan lele seperti Deden A.S ini.

sumber: detikfinance.com
Gambar: harisarya.com
Maos Jangkepipun (read more) »»

NTT Bertekad jadi Sentra Produksi Sapi

Posted by on | | 0 komentar

Pemprov Nusa Tenggara Timur (NTT) bertekat untuk mengembalikan daerahnya sebagai sentra produksi sapi potong yang diperhitungkan di Indonesia guna mengisi kebutuhan pasar dalam negeri yang cukup besar mencapai sekitar 13,2 juta ekor per tahun.

Gubernur NTT Frans Lebu Raya mengatakan tekad tersebut didasari atas potensi alam dan semangat kerja masyarakat, khususnya di Kabupaten Kupang, yang beberapa tahun yang lalu pernah menjadi salah satu pusat produksi sapi potong yang terbesar di Tanah Air.
“Kami bertekad mengembalikan NTT, khususnya Kabupaten Kupang sebagai setra peternakan sapi yang dulu pernah menjadi salah satu pemasok utama kebutuhan di dalam negeri dan ekspor,” katanya menjawab Bisnis seusai peresmian Kampung Jasa Raharja di Desa Merbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, NTT akhir pekan lalu.

Dia mengatakan sedikitnya 4 program tengah dilaksanakan untuk menyukseskan pengembangan NTT menjadi salah satu sentra produksi sapi potong yang diperhitungkan di Indonesia, yakni Pertama, berusaha secara maksimal menekan tingkat kematian pedet (anak sapi) yang kini masih tinggi mencapai di atas 30% sehingga populasi hewan ternak itu terus bertambah jumlahnya.

Program Kedua adalah menyelamatkan sapi betina produktif, terutama yang akan dijual oleh pemiliknya karena desakan ekonomi, untuk dipotong atau dikirim ke luar dari wilayah NTT. Padahal sapi itu berpotensi untuk dikembang biakkan di daerah setempat.

Untuk itu pihak Unit Pelayanan Teknis Pembibitan Dinas Peternakan NTT siap membeli setiap sapi betina produktif yang akan dijual oleh pemiliknya, kemudian dipelihara hingga melahirkan dan anaknya nanti dibagikan lagi kepada para peternak di daerah setempat.

Menurut Frans, program Ketiga terkait dengan jaminan ketersediaan pakan sapi dengan cara mewajibkan setiap pemilik hewan ternak itu menanam sendiri pohon lamtoro untuk diambil daunnya sebagai pakan sapi, dan mendorong pengembangan industri pakan di daerah itu.

“Program berikutnya yang kami lakukan adalah mengusahakan akses permodalan melalui kemitraan dengan sejumlah lembaga keuangan maupun instansi seperti dengan PT Jasa Raharja Persero yang membantu modal usaha kepada para peternak untuk membeli sapi,” ujarnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama Dirut PT Jasa Raharja Persero Diding S. Anwar mengatakan pihaknya telah menyalurkan dana sebesar Rp255 juta untuk dibagikan kepada 17 peternak sapi di Desa Merbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang untuk membeli 85 ekor sapi.

“Selain pinjaman modal berbunga rendah hanya 6% per tahun untuk membeli sapi, kami juga memberikan pendampingan secara langsung kepada mereka karena Desa Merbaun terpilih menjadi Kampung Jasa Raharja yang menjadi desa binaan kami,” katanya.

Diding mengatakan di dalam desa benaan tersebut PT Jasa Raharja memberikan bantuan material untuk bangunan kandang yang kini sudah difungsikan, pembangunan gedung taman kanak-kanan, perpustakaan, serta lapangan foli dan pembuatan gawang sepak bola secara permanen.

Kepala Desa Merbaun Arnold Naisanu mengatakan jumlah sapi yang ada di desanya sekarang mencapai lebih dari 1.000 ekor dan secara keseluruhan di wilayah NTT mencapai sekitar 556.000 ekor yang tersebar di beberapa kabupaten yang potensial untuk ternak sapi.

Dengan bantuan dari PT Jasa Raharja atau instansi lainnya, kata dia, diharapkan dapat menyukseskan program Pemprov NTT untuk menjadikan daerahnya sebagai sentra produksi sapi yang diperhitungkan di Tanah Air.
Sumber : bisnis.com
gambar:www.florestourismboard.com
Maos Jangkepipun (read more) »»